Tragedi Ponpes Al-Khoziny: 50 Jenazah Teridentifikasi, Proses DVI Masuki Tahap Kritis
katamerdeka.com – Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur terus mengintensifkan proses identifikasi korban tragedi robohnya bangunan musala Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo. Hingga Jumat malam (10/10/2025), tiga kantong jenazah tambahan berhasil diidentifikasi, terdiri dari dua jenazah utuh dan satu bagian tubuh (body part).
Dengan temuan terbaru ini, total 50 korban dari 67 kantong jenazah telah berhasil diidentifikasi. Proses identifikasi masih terus berlangsung karena jumlah korban jiwa diperkirakan bisa bertambah.
Kabid Dokkes Polda Jatim sekaligus Komandan Tim DVI, Kombes Pol Khusnan Marzuki, menyampaikan bahwa identifikasi dilakukan melalui metode medis, pemeriksaan gigi, dan analisis DNA. Berikut identitas korban terbaru:
-
Moh. Alfin Mutawakkilalallah (17)
-
Asal: Desa Lomaer, Kecamatan Blega, Kabupaten Bangkalan
-
Teridentifikasi dari kantong PM RSB B-031 melalui data gigi dan medis.
-
-
Muhammad Iklil Ibrahim Al Aqil (15)
-
Asal: Dusun Tegal Gebang, Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember
-
Teridentifikasi dari kantong PM RSB B-049 melalui data gigi dan medis.
-
-
Mochammad Haikal Ridwan (14)
-
Asal: Dusun Barat Leke, Desa Sendang Dajah, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan
-
Teridentifikasi dari bagian tubuh (body part) nomor PM 056.1 melalui pemeriksaan DNA dan medis.
-
“Total 50 individu dari 67 kantong jenazah sudah berhasil kami identifikasi hingga malam ini,” ujar Kombes Khusnan.
Masih terdapat 14 kantong jenazah yang sedang dalam pemeriksaan lanjutan. Dari total 67 kantong, 53 di antaranya telah teridentifikasi dan mewakili 50 korban individual.
“Kami masih menunggu hasil lanjutan dari uji DNA. Proses ini memerlukan ketelitian, dan kami mohon keluarga korban bersabar,” tambah Khusnan. Pihak keluarga korban yang telah teridentifikasi juga telah dihubungi untuk proses penyerahan jenazah sesuai permintaan.
Kabid DVI Pusdokkes Polri, Kombes Pol Wahyu Hidayati, menjelaskan bahwa proses identifikasi semakin menantang karena kualitas sampel DNA yang tersisa mulai menurun.
“Semakin sedikit hasil yang bisa dirilis bukan berarti tim berhenti bekerja. Namun, kondisi sampel menyulitkan proses identifikasi,” ujarnya.
Wahyu menegaskan bahwa satu korban bisa saja terdiri dari beberapa kantong jenazah. Dari laporan, jumlah korban hilang mencapai 63 orang, sehingga jumlah kantong tidak selalu mencerminkan jumlah individu.
Sementara itu, penyidikan atas insiden ambruknya bangunan Ponpes Al-Khoziny telah dinaikkan statusnya oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum dan Khusus Polda Jatim. Pada Rabu malam (8/10/2025), dilakukan gelar perkara untuk peningkatan status penanganan menjadi penyidikan.
Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto menyampaikan bahwa sebanyak 17 saksi telah diperiksa. Para saksi berasal dari berbagai latar belakang, termasuk santri, pengurus pondok, warga sekitar, hingga ahli teknik sipil dan konstruksi bangunan.
“Pemeriksaan masih berlangsung. Pimpinan ponpes belum diperiksa, namun kemungkinan akan dilakukan secara bertahap sesuai perkembangan penyidikan,” tegas Nanang.
Polda Jawa Timur bersama Pusdokkes Polri tetap melanjutkan operasi DVI dengan dukungan tim forensik dan laboratorium DNA. Proses ini diharapkan dapat mengungkap dan mengidentifikasi seluruh korban secara ilmiah, serta memberikan kepastian kepada keluarga yang terdampak tragedi ini.








Comment