Tiga Bulan Pascabanjir, Suplai Air Bersih di Aceh Tamiang Baru Pulih 55 Persen
katamerdeka.com – Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, belum mampu memulihkan suplai air bersih ke seluruh wilayah terdampak banjir sejak tiga bulan terakhir.
Akibatnya, para pengungsi korban banjir mengalami krisis air bersih di tengah proses pemulihan yang belum tuntas.
Direktur Perusahaan Air Minum Daerah (Perumda) Aceh Tamiang, Juanda, Minggu (1/3/2026), mengakui perusahaan daerah tersebut belum pulih 100 persen pascabanjir yang terjadi pada 26 November 2025.
“Sampai saat ini, pompa dan infrastruktur masih banyak yang rusak. Jadi memang belum pulih sepenuhnya,” ujar Juanda.
Saat ini, perusahaan pelat merah itu hanya mampu melayani sekitar 55 persen pelanggan atau setara 29.572 sambungan rumah.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 24.041 water meter tercatat dalam kondisi rusak sehingga tidak dapat melakukan pencatatan penggunaan air pelanggan secara normal.
Sementara itu, sisa pelanggan lainnya belum dapat dipulihkan layanannya. Juanda menjelaskan, tekanan pipa air saat ini baru mencapai 50 persen sehingga tidak mampu mendorong suplai dengan debit lebih besar ke masyarakat.
Selain kerusakan infrastruktur, Perumda juga menghadapi persoalan finansial. Selama tiga bulan terakhir, perusahaan tidak memperoleh pendapatan, sehingga kesulitan membeli bahan kimia penjernih air seperti tawas dan kaporit.
“Kami butuh dukungan pembelian tawas dan kaporit untuk enam bulan ke depan. Kami sudah rapat dengan Sekda Aceh Tamiang untuk membahas percepatan pemulihan suplai air bersih,” kata Juanda.
Hingga kini, puluhan ribu penyintas banjir masih mengungsi di 12 kecamatan di Aceh Tamiang. Pemerintah daerah juga belum menyelesaikan pembangunan hunian sementara bagi seluruh korban terdampak.
Kondisi ini membuat kebutuhan dasar, termasuk air bersih, menjadi persoalan mendesak yang perlu segera ditangani agar tidak memicu masalah kesehatan di lokasi pengungsian.
Tim Redaksi








Comment