katamerdeka.com – Hizbullah mengaku bertanggung jawab atas serangan rudal yang menargetkan pangkalan Israel di Haifa. Dalam pernyataannya yang dikutip Al Jazeera, kelompok yang berbasis di Lebanon itu menyebut serangan tersebut sebagai balasan atas kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Hizbullah menyatakan, serangan itu juga merupakan bentuk pembelaan terhadap Lebanon atas agresi Israel yang dinilai terus berlanjut meski telah ada kesepakatan gencatan senjata.

“Kepemimpinan perlawanan selalu menegaskan bahwa berlanjutnya agresi Israel dan pembunuhan para pemimpin, pemuda, dan rakyat kami memberi kami hak untuk membela diri dan membalas pada waktu dan tempat yang tepat,” demikian pernyataan kelompok tersebut.

Mereka menambahkan, “Musuh Israel tidak dapat melanjutkan agresinya yang telah berlangsung selama lima belas bulan tanpa adanya respons peringatan untuk menghentikan agresi ini dan menarik diri dari wilayah Lebanon yang diduduki.”

Serangan ini merupakan yang pertama diklaim Hizbullah sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Teheran pada Sabtu (28/2/2026). Sebelumnya, kelompok yang didukung Iran itu tidak ikut campur dalam perang Iran tahun lalu setelah mengalami tekanan berat akibat konflik dengan Israel.

Sebagai respons, militer Israel menyatakan telah melancarkan serangkaian serangan balasan terhadap target-target Hizbullah di berbagai wilayah Lebanon pada Senin (2/3/2026).

“Sebagai tanggapan terhadap tembakan proyektil Hizbullah ke arah Israel, pasukan kami telah mulai menyerang target Hizbullah di seluruh Lebanon,” demikian pernyataan militer Israel, dikutip dari AFP.

Sehari sebelumnya, Minggu (1/3/2026), Hizbullah menggelar pertemuan yang dihadiri ribuan orang di pinggiran selatan Beirut sebagai bentuk dukungan kepada Iran. Kelompok itu juga menyerukan kepada masjid-masjid untuk membaca Al Quran dan menggelar upacara berkabung atas wafatnya Ayatollah Ali Khamenei.

Khamenei dilaporkan meninggal dunia pada Sabtu (28/2/2026) saat Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap Republik Islam Iran. Dalam konflik sebelumnya antara Iran dan Israel pada Juni lalu yang berlangsung selama 12 hari, Hizbullah juga tidak terlibat langsung.

Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menyebut pembunuhan Khamenei dan sejumlah pejabat Iran lainnya sebagai puncak kejahatan.

“Hizbullah berjanji untuk melanjutkan jihad dan perlawanannya, serta berdiri teguh dan tanpa ragu di samping Republik Islam untuk mengalahkan para agresor yang arogan dan tirani hingga kemenangan akhir dan lengkap tercapai,” bunyi pernyataan tersebut.