Harga Emas Dunia Tembus 4.900 Dollar AS per Ons, Cetak Rekor Baru
katamerdeka.com – Harga emas dunia mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah dengan menembus level 4.900 dollar AS per ons untuk pertama kalinya pada Kamis (22/1/2026) waktu setempat. Lonjakan harga ini dipicu oleh ketegangan geopolitik global yang berlanjut, melemahnya dolar AS, serta ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).
Di pasar spot, harga emas melonjak ke level tertinggi 4.904,66 dollar AS per ons pada pukul 12.50 waktu setempat atau 17.50 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari turut menguat 1,2 persen ke posisi 4.896,2 dollar AS per ons.
Pelemahan Dolar AS Dorong Permintaan Emas
Kenaikan harga emas terjadi seiring dengan melemahnya dolar AS sekitar 0,4 persen. Kondisi ini membuat emas, yang diperdagangkan dalam denominasi dolar AS, menjadi lebih murah dan menarik bagi investor global.
“Ketegangan geopolitik, dolar yang secara umum melemah, serta ekspektasi pelonggaran kebijakan The Fed tahun ini merupakan faktor yang menjadi bagian dari tren makro de-dolarisasi dan masih memengaruhi permintaan emas,” ujar Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, dikutip dari Reuters, Jumat (23/1/2026).
Isu Greenland dan Ketegangan Global
Sentimen geopolitik menjadi pendorong utama pergerakan harga emas. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa AS telah mengamankan akses penuh dan permanen ke Greenland melalui kesepakatan dengan NATO. Kepala NATO menekankan pentingnya peningkatan komitmen negara-negara sekutu terhadap keamanan kawasan Arktik guna menghadapi potensi ancaman dari Rusia dan China.
Namun demikian, detail kesepakatan tersebut belum diungkap secara jelas. Pemerintah Denmark juga menegaskan bahwa kedaulatan atas Greenland tidak untuk diperdebatkan, sehingga memicu ketidakpastian lanjutan di pasar global.
Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed
Dari sisi ekonomi, laporan terbaru Personal Consumption Expenditures (PCE) AS menunjukkan belanja konsumen meningkat pada Oktober dan November. Data tersebut mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang kuat selama tiga kuartal berturut-turut.
Meski demikian, pasar masih memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga dua kali, masing-masing sebesar 25 basis poin, pada paruh kedua 2026. Ekspektasi ini memperkuat daya tarik emas sebagai aset lindung nilai, mengingat emas tidak memberikan imbal hasil bunga.
“Pelemahan harga dalam jangka pendek akan dipandang sebagai peluang beli. Kami melihat level 5.000 dollar AS per ons sudah dekat dan setelah itu proyeksi Fibonacci di 5.187,79 dollar AS per ons terlihat masuk akal,” kata Grant.
Harga Perak Turut Menguat
Selain emas, harga perak juga mencatatkan penguatan signifikan. Harga perak spot melonjak 3,5 persen ke level 96,45 dollar AS per ons, mendekati rekor tertinggi 96,51 dollar AS per ons yang sempat tercapai pada hari yang sama.
“Perak memiliki narasi fundamental yang jauh lebih menarik dibandingkan emas. Meski bukan aset cadangan seperti emas, perak tetap diuntungkan oleh arus aset lindung nilai serta pelemahan dolar,” ujar Senior Market Analyst Tradu, Nikos Tzabouras.








Comment