Harga Cabai Naik Tajam, Pelaku Usaha Rumahan Terpaksa Pilih Antara Untung atau Kualitas
katamerdeka.com – Lonjakan harga cabai kembali menjadi ujian bagi pelaku usaha kuliner rumahan. Sejak awal Desember, kenaikan terjadi hampir merata di berbagai daerah, memaksa para pedagang kecil memutar otak agar usaha tetap berjalan di tengah tekanan biaya bahan baku.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, harga rata-rata cabai rawit secara nasional telah menembus Rp60 ribu per kilogram. Di sejumlah wilayah, angkanya bahkan melonjak ekstrem hingga mendekati Rp200 ribu per kilogram. Kombinasi cuaca hujan yang mengganggu produksi serta meningkatnya permintaan menjelang libur akhir tahun disebut menjadi pemicu utama.
Bagi Lidya (33), pengusaha sambal rumahan, lonjakan harga kali ini terasa paling memberatkan sepanjang tahun. Harga cabai rawit yang biasa ia beli di kisaran Rp50 ribu per kilogram kini melonjak lebih dari dua kali lipat. Kondisi serupa juga terjadi pada cabai keriting.
Setiap pekan, Lidya membutuhkan beberapa kilogram cabai untuk memenuhi pesanan sambal kecombrang dan sambal cumi buatannya. Meski biaya produksi melonjak, ia memilih tidak mengurangi takaran bahan demi menjaga cita rasa.
“Kalau kualitas turun, pelanggan bisa kecewa. Jadi mau tidak mau margin yang saya korbankan,” tuturnya.
Lidya menilai kenaikan harga cabai sudah menjadi pola tahunan, terutama saat musim hujan dan mendekati hari besar. Ia memperkirakan tekanan harga belum akan mereda dalam waktu dekat, mengingat rangkaian perayaan masih akan berlanjut hingga awal tahun depan.
Sementara itu, strategi berbeda diambil Yessica (30), penjual aneka balado. Setiap kali membuka pemesanan, ia membutuhkan pasokan cabai dalam jumlah besar. Ketika harga cabai melonjak hingga sekitar Rp100 ribu per kilogram, penyesuaian harga jual menjadi pilihan yang tak terhindarkan.
Menurut Yessica, transparansi kepada pelanggan menjadi kunci. Setiap perubahan harga selalu ia sampaikan sejak awal, menyesuaikan dengan kondisi pasar bahan baku. Saat ini, harga menu balado yang ia tawarkan berada di kisaran Rp60 ribu hingga Rp95 ribu per porsi.
Kenaikan harga cabai juga tercermin dalam sebaran wilayah terdampak. BPS mencatat, pada pekan pertama Desember, ratusan kabupaten dan kota mengalami lonjakan harga cabai rawit dan cabai merah, meningkat signifikan dibandingkan pekan sebelumnya.
Di tengah tekanan tersebut, pelaku usaha kuliner rumahan tetap berupaya bertahan. Ada yang memilih menahan keuntungan, ada pula yang menyesuaikan harga secara bertahap. Namun semangat mereka sama: menjaga dapur tetap beroperasi dan pelanggan tetap terlayani.
Bagi para penjual kecil ini, stabilnya harga cabai bukan sekadar soal angka, melainkan penentu keberlanjutan usaha yang mereka bangun dari dapur rumah sendiri.
Tim Redaksi
Defisit Perdagangan US$ 450 Juta Tekan Rupiah di Juni 2026

Krom Bank Salurkan Kredit ke Pandai Gadai, Pacu Ekspansi Bisnis





Comment